Movodia Digitec
Distributor Resmi | Garansi Resmi
Review Xteink X3: Layarnya Tajam, Kurangnya di Kabel Ngecas dan SoftwareXteink X3 putih tampak depan dan X3 hitam tampak belakang. Foto: Xteink

Review Xteink X3: Layarnya Tajam, Kurangnya di Kabel Ngecas dan Software

Review Xteink X3 dari kesan para reviewer: layar 3,7 inci yang lebih tajam dari X4, tombol fisik yang lebih enak, dan dua kekurangan nyata, yaitu kabel ngecas khusus dan software bawaan.

Movodia · 28 Oktober 2026Review

Xteink X3 beratnya cuma 58 gram, layarnya 3,7 inci. Sekecil itu, masih enak dipakai menamatkan novel tebal?

Layar Xteink X3: kecil, tapi paling tajam di keluarganya

Menurut halaman resmi Xteink, layar E Ink X3 punya kerapatan 259 PPI. Liliputing membandingkannya dengan X4 yang 220 PPI. Artinya huruf di X3 terlihat lebih rapat dan halus walau layarnya lebih kecil.

Joel Cunningham, yang tulisannya dimuat Lifehacker Jepang, menamatkan Lonesome Dove, novel sekitar 900 halaman, di X3 selama beberapa minggu. Menurutnya, layar yang lebih kecil hampir tidak mengganggu pengalaman membaca. X3 malah jadi perangkat baca favoritnya, karena dibawa ke mana-mana sama sekali tidak terasa beban.

Amanda Silberling dari TechCrunch juga tidak kesulitan membaca di layar sekecil itu. Ia memakai X3 untuk mengisi waktu antre kopi atau menunggu bus, dan merasa jadi lebih banyak membaca.

Spek Xteink X3Keterangan
LayarE Ink 3,7 inci, 259 PPI, tanpa lampu depan
KontrolTombol fisik, tanpa layar sentuh
Baterai650 mAh
NgecasPin magnetis (pogo pin), kabel khusus
Dimensi, berat97,6 × 63,7 × 5,1 mm, 58 g
FormatEPUB, TXT, JPG, BMP
PenyimpananKartu microSD 16 GB termasuk

Kelebihan

  • Layar 259 PPI, lebih tajam dari X4
  • Cuma 58 gram, muat di saku
  • Tombol fisik di dua sisi
  • Bisa ganti firmware ke CrossPoint

Kekurangan

  • Ngecas pakai kabel magnetis khusus, bukan USB-C, dan software bawaannya kaku

Tombol fisik yang lebih masuk akal

Di X4, tombol balik halaman cuma ada di satu sisi. Menurut Cunningham, X3 menambahkan tombol atas-bawah di kedua sisi, jadi halaman lebih jarang kebalik tanpa sengaja. Tombol power juga pindah ke atas, sehingga tidak gampang kepencet saat digenggam.

Michael Kozlowski dari Good e-Reader menyebut balik halaman dengan tombol yang terasa saat ditekan itu "refreshing". Tombol yang sama dipakai untuk navigasi menu.

Bagian bawah Xteink X3 hitam dengan dua tombol di bawah layar
Dua tombol di bawah layar Xteink X3. Foto: Xteink

Xteink juga menambahkan gyroscope, jadi halaman bisa dibalik dengan menggoyang perangkat. Liliputing menebak kebanyakan orang tetap lebih suka menekan tombol. Kami setuju, apalagi kalau bacanya di KRL yang goyang.

Kekurangan Xteink X3: kabel khusus dan software bawaan

Dua keluhan muncul berulang di review X3.

Pertama, ngecasnya. X3 tidak punya port USB-C, melainkan empat pin magnetis di punggungnya. Silberling menyebut charger magnetisnya menyebalkan. Cunningham merasa repot harus ingat lagi di mana menyimpan satu kabel khusus. Liliputing mengingatkan, kalau kabelnya hilang, kamu bisa kerepotan.

Pin magnetis di punggung Xteink X3
Empat pin magnetis untuk ngecas di punggung Xteink X3. Foto: Xteink

Kabar baiknya, baterainya awet. Silberling mencatat baterai X3 cuma turun dari 100% ke 96% setelah dua minggu dipakai rutin. Jadi kabel itu memang jarang dicari.

Kedua, software bawaan. Silberling menyebut firmware bawaannya "pretty clunky". Cunningham mencatat hanya ada dua pilihan font, gambar kadang tampil tidak stabil, dan huruf tebal serta miring tidak didukung. Liliputing menilai software X3 memang lebih baik dari generasi sebelumnya, tapi "better doesn't necessarily mean good".

Solusinya sama dengan X4: ganti ke CrossPoint, firmware komunitas yang gratis dan open source. README CrossPoint di GitHub sudah mencantumkan X3 sebagai perangkat yang didukung. Silberling memasangnya sendiri dengan mengikuti petunjuk di situs CrossPoint. Bedanya dengan firmware bawaan kami bahas di CrossInk vs CrossPoint.

Buat siapa X3, dan kapan pilih X4 Pro?

Halaman resmi Xteink sendiri menyarankan X3 sebagai pendamping e-reader yang lebih besar. Layarnya memuat lebih sedikit teks, jadi halaman lebih sering dibalik. Tidak ada lampu depan, jadi baca malam butuh lampu kamar atau Xteink Reading Light. Buku dari Kindle, iPusnas, atau Libby juga tidak bisa dibuka. X3 hanya membaca file EPUB dan TXT tanpa DRM.

Kalau kamu sering baca di kasur dengan lampu mati, Xteink X4 Pro yang punya lampu depan dan layar sentuh lebih cocok. Perbandingan lengkap tiga modelnya ada di Xteink X3 vs X4 vs X4 Pro.

Opini Kami

Menurut kami, Xteink X3 layak dibeli sebagai e-reader kedua untuk yang koleksi bukunya sudah berupa EPUB. Layarnya paling tajam di keluarga Xteink, tombolnya lebih rapi, dan bobotnya paling ringan. Kekurangan softwarenya bisa ditambal CrossPoint.

Yang tidak bisa ditambal cuma kabel ngecas khusus. Jadi pilih X3 kalau kamu mau e-reader yang selalu ada di saku. Simpan kabelnya di tas, dan baterai dua minggu akan mengurus sisanya.

Cek warna yang tersedia di halaman Xteink X3 putih dan Xteink X3 hitam. Semua dengan garansi resmi 12 bulan dari Movodia.

Sumber

  • TechCrunch, review Xteink X3 (Amanda Silberling, terbit 3 Mei 2026, diperbarui 19 Agustus 2026): techcrunch.com
  • Lifehacker Jepang, ulasan membaca novel panjang di Xteink X3 (Joel Cunningham, 7 Juni 2026): lifehacker.jp
  • Liliputing, pengumuman Xteink X3 (2 April 2026): liliputing.com
  • Good e-Reader, "First Look at the Xteink X3 Mini E-Reader" (Michael Kozlowski): goodereader.com
  • Xteink, "XTEINK X3 Pocket eReader: Specs, Tradeoffs, and Who It's For" (10 Juli 2026): xteink.com
  • CrossPoint Reader, README GitHub: github.com

Artikel lain